HIBRIDISASI
ORBITAL
Hibridisasi adalah
sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atom membentuk orbital
hibrid yang baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif sifat ikatan
atom. Konsep orbital-orbital yang terhibridisasi sangatlah berguna dalam
menjelaskan bentuk orbital molekul dari
sebuah molekul.
Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari teori ikatan valensi. Walaupun
kadang-kadang diajarkan bersamaan dengan teori VSEPR,
teori ikatan valensi dan hibridisasi sebenarnya tidak ada hubungannya sama
sekali dengan teori VSEPR.
Hibrid
sp
Ikatan kimia dalam senyawa seperti
alkuna dengan ikatan rangkap tiga dijelaskan dengan hibridisasi sp.
Dalam model ini, orbital 2s hanya
bergabung dengan satu orbital-p, menghasilkan dua orbital sp dan menyisakan dua
orbital p. Ikatan kimia dalam asetilena (etuna) terdiri dari tumpang tindih
sp-sp antara dua atom karbon membentuk ikatan sigma, dan dua ikatan pi tambahan
yang dibentuk oleh tumpang tindih p-p. Setiap karbon juga berikatan dengan
hidrogen dengan tumpang tindih s-sp bersudut 180°.
Hibrid
sp2
Senyawa
karbon ataupun molekul lainnya dapat dijelaskan seperti yang dijelaskan pada
metana. Misalnya etilena (C2H4) yang memiliki ikatan rangkap dua di antara
karbon-karbonnya.
Karbon akan melakukan hibridisasi sp2
karena orbtial-orbital hibrid hanya akan membentuk ikatan sigma dan satu ikatan
pi seperti yang disyaratkan untuk ikatan rangkap dua di antara karbon-karbon.
Ikatan hidrogen-karbon memiliki panjang dan kuat ikat yang sama. Hal ini sesuai
dengan data percobaan.
membentuk
3 orbital sp2 dengan satu orbital p tersisa. Dalam etilena, dua atom karbon
membentuk sebuah ikatan sigma dengan bertumpang tindih dengan dua orbital sp2
karbon lainnya dan setiap karbon membentuk dua ikatan kovalen dengan hidrogen
dengan tumpang tindih s-sp2 yang bersudut 120°. Ikatan pi antara atom karbon
tegak lurus dengan bidang molekul dan dibentuk oleh tumpang tindih 2p-2p
(namun, ikatan pi boleh terjadi maupun tidak).
Jumlah huruf p tidaklah seperlunya
terbatas pada bilangan bulat, yakni hibridisasi seperti sp2.5 juga dapat terjadi.
Dalam kasus ini, geometri orbital terdistorsi dari yang seharusnya. Sebagai
contoh, seperti yang dinyatakan dalam kaidah Bent, sebuah ikatan cenderung
untuk memiliki huruf-p yang lebih banyak ketika ditujukan ke substituen yang
lebih elektronegatif.
Hibrid
sp3
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang
berikatan dari sudut pandang sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang
berkoordinasi secara tetrahedal (seperti metana, CH4), maka karbon haruslah
memiliki orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom
hidrogen. Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2
2px1 2py1.
Proton yang membentuk inti atom hidrogen
akan menarik salah satu elektron valensi karbon. Hal ini menyebabkan eksitasi,
memindahkan elektron 2s ke orbital 2p. Hal ini meningkatkan pengaruh inti atom
terhadap elektron-elektron valensi dengan meningkatkan potensial inti efektif.
Kombinasi gaya-gaya ini membentuk
fungsi-fungsi matematika yang baru yang dikenal sebagai orbital hibrid. Dalam
kasus atom karbon yang berikatan dengan empat hidrogen, orbital 2s (orbital
inti hampir tidak pernah terlibat dalam ikatan) "bergabung" dengan
tiga orbital 2p membentuk hibrid sp3 (dibaca s-p-tiga) menjadi :
Pada CH4, empat orbital hibrid sp3
bertumpang tindih dengan orbital 1s hidrogen, menghasilkan empat ikatan sigma.
Empat ikatan ini memiliki panjang dan kuat ikat yang sama, sehingga sesuai
dengan pengamatan.
Ikatan rangkap
konjugasi
Ikatan
rangkap konjugasi adalah ikatan rangkap selang seling dengan ikatan tunggal
atau disebut juga elektronnya dapat berpindah-pindah (terdelokalisasi). Ikatan
rangkap terkonjugasi terjadi dalam senyawa organik yang atom-atomnya secara
kovalen berikatan tunggal dan ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan
memengaruhi satu sama lainnya membentuk daerah delokalisasi elektron.
Elektron-elektron pada daerah delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom,
melainkan milik keseluruhan sistem konjugasi ini.
Isomer cis-trans
Terdapat
dua bentuk isomer cis-trans, yakni cis dan trans. Ketika gugus substituen
berorientasi pada arah yang sama, diastereomer ini disebut sebagai cis,
sedangkan ketika subtituen berorientasi pada arah yang berlawanan, diastereomer
ini disebut sebagai trans.
Isomer
cis-trans terjadi bila tiap-tiap atom C yang berikatan rangkap mengikat gugus
atom berbeda. Isomer cis memiliki titik didih lebih tinggi dibandingkan dengan
isomer trans. Alasan untuk ini adalah gaya antarmolekul kuat dalam isomer cis. Isomer
Trans akan memiliki titik didih lebih rendah karena meskipun ada pemisahan
muatan, molekul keseluruhan menjadi non polar. Tapi isomer trans memiliki titik
lebur yang lebih tinggi. Isomer trans memiliki bentuk lurus, dan mereka dikemas
dengan baik. Jadi energi yang lebih tinggi diperlukan untuk mencairkan molekul
yang memberikan titik lebur yang lebih tinggi.
BENZENA (C6H6)
Suatu
benzena yang sudah tersubstitusi dapat mengalami substitusi kedua dan
menghasilkan disubstitusi benzena. Struktur dari substitusi pertama menentukan
tempat dari substitusi kedua dalam cincin benzena. Misalnya, suatu gugus metil
dalam cincin mengarahkan substitusi yang kan datang terutama ke tempat orto dan
para. Sedangkan suatu gugus nitro dalam cincin benzena mengarahkan substitusi
kedua yang akan datang terutama ke tempat meta. Dalam substitusi orto dan para,
oksigen dari gugus OH membantu membagikan muatan posistif, sehingga
menstabilkan intermediet dengan jalan delokalisasi muatan. Apabilan substitusi
masuk pada tempat meta, oksigen tidak dapat membantu membagi muatan.
Intermediat meta dan bentuk transisinya mengandung energi lebih besar daripada
transisi substitusi orto-para. Oleh karena itu energi aktivasinya lebih tinggi,
maka kemungkinan lebih sedikit untuk terjadi reaksi pada tempat meta. Dalam
reaksi substitusi nitrobenzena, gugus nitronya tidak menambah kestabilan pada
intermediatnya. Malahan intermediat substitusi orto, atau para dan keadaan
transisinya kurang stabil (karena energi yang tinggi), karena sebuah struktur
resonansi mengandung muatan positif pada atom berdekatan. Oleh karena itu,
substitusi terjadi lebih baik pada tempat meta, sebab keadaan transisi dan
intermediatnya pada tempat yang berdekatan tidak mengandung muatan positif.



assalamualaikum mauli, saya ingin bertanya bisakah anda jelaskan apa kaitannya hibridisasi dengan teori ikatan valensi?
BalasHapuswaalaikumsalam, Teori ikatan valensi dapat juga diterapkan dalam molekul poliatomik beriringan dengan teori hibridisasi molekul[3]. Dalam contoh ini disajikan penerapan teori ikatan valensi untuk menjelaskan mengenai hibridisasi sp3 pada molekul metana (CH4).
HapusMetana memiliki atom pusat sebuah karbon yang berkoordinasi secara terahedral. Oleh karena itu, atom karbon pusat haruslah memiliki orbital-orbital yang simetri tepat dengan 4 atom hidrogen. Konfigurasi dasar dari karbon adalah :
Hibridisasi1.png
Dengan teori ikatan valensi, maka dapat diprediksi bahwa berdasarkan pada keberadaan dua orbital yang terisi setengah, atom C akan membentuk dua buah ikatan kovalen membentuk CH2. Namun CH2 merupakan molekul yang sangat reaktif sehingga teori ikatan valensi saja tidak cukup untuk menjelaskan terbentuknya molekul CH4. Untuk itu, digunakan teori hibridisasi, dimana langkah awal adalah eksitasi satu atau lebih elektron valensi C.
Hibridisasi2.png
Proton yang membentuk inti hidrogen akan akan menarik salah satu elektron valensi karbon sehingga menyebabkan eksitasi (pemindahan elektron 2s ke orbital 2p) dan terbentuklah ikatan berhibrid sp3.
Assalamualaikum mauli
BalasHapusFitri ingin bertanya tentang resonansi pada benzena
Bisakah anda menjelaskan tentang proses resonansi pada benzena?
Terima kasih
waalaikumsalam, Resonansi Pada Benzena
HapusBerdasarkan hasil analisis sinar-X maka diusulkan bahwa ikatan rangkap pada molekul benzena tidak terlokalisasi pada karbon tertentu melainkan dapat berpindah-pindah (terdelokalisasi). Gejala ini dinamakan resonansi.
resonansi1
Resonansi terjadi karena adanya delokalisasi elektron dari ikatan rangkap ke ikatan tunggal. Delokalisasi elektron yang terjadi pada benzena pada struktur resonansi adalah sebagai berikut:
resonansi2
Hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa lambang resonasi bukan struktur nyata dari suatu senyawa, tetapi merupakan struktur khayalan. Sedangkan struktur nyatanya merupakan gabungan dari semua struktur resonansinya. Hal ini pun berlaku dalam struktur resonansi benzena, sehingga benzena lebih sering digambarkan sebagai berikut:
resonansi3
Teori resonansi dapat menerangkan mengapa benzena sukar diadisi. Sebab, ikatan rangkap dua karbon-karbon dalam benzena terdelokalisasi dan membentuk semacam cincin yang kokoh terhadap serangan kimia, sehingga tidak mudah diganggu. Oleh karena itulah reaksi yang umum pada benzena adalah reaksi substitusi terhadap atom H tanpa mengganggu cincin karbonnya.
assalamualaikum mauli , dari postingan diatas manakah energinya yang lebih tinggi ikatan tunggal atau ikatan phi ?
BalasHapuswaalaikumsalam, saya akan mencoba menjawab. ikatan phi memiliki energi yang lebih rendah dibandingkan dengan ikatan tunggal, karena ikatan phi mendapat gangguan dari ikatan tunggal(jomblo), sehingga ikatan phi ini mudah untuk diputuskan, karena ikatan tunggal (jomblo) ini dapat berpindah ke sebelahnya, sehingga ikatan yang ditinggalkan akan menjadi ikatan tunggal lagi yang memiliki energi yang tinggi karena tidak ada gangguan lagi, sehingga ikatan tunggal susah untuk diputuskan
BalasHapus